<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>selviya.com</title>
	<atom:link href="http://selviya.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://selviya.wordpress.com</link>
	<description>a place to learn, to share, and to make difference</description>
	<lastBuildDate>Fri, 14 Aug 2009 04:23:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='selviya.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/ea381fad617deed83144a15b4b8c1eaf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>selviya.com</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>PERENUNGAN BAK KAMAR MANDI</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2009/08/01/perenungan-bak-kamar-mandi/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2009/08/01/perenungan-bak-kamar-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Aug 2009 06:10:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=152</guid>
		<description><![CDATA[SEKITAR sebulan lalu, saya dikejutkan dengan berita pindahnya seorang anak kos. Ia adalah seorang teman seangkatan namun beda jurusan dengan saya, sudah ngendon kurang lebih 4 tahunan di kos kami. Saya malahan bisa terbilang penghuni baru di situ. Usut punya usut, menurut informan terpercaya, dia keluar kos dan pindah ke kosan lain yang tak jauh dari kosan lama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=152&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft size-medium wp-image-157" title="6a00e3981de7fa883300e54f901e428833-800wi" src="http://selviya.files.wordpress.com/2009/08/6a00e3981de7fa883300e54f901e428833-800wi.jpg?w=227&#038;h=300" alt="6a00e3981de7fa883300e54f901e428833-800wi" width="227" height="300" />SEKITAR sebulan lalu, saya dikejutkan dengan berita pindahnya seorang anak kos. Ia adalah seorang teman seangkatan namun beda jurusan dengan saya, sudah ngendon kurang lebih 4 tahunan di kos kami. Saya malahan bisa terbilang penghuni baru di situ. Usut punya usut, menurut informan terpercaya, dia keluar kos dan pindah ke kosan lain yang tak jauh dari kosan lama karena ia udah gak tahan dengan cueknya penghuni kos lain (termasuk saya) pada KEBERSIHAN kos. Yang paling riskan adalah kebersihan KAMAR MANDI. Kebetulan kami gak punya pembantu, jadi segalanya memang harus dikerjakan sendiri.</p>
<p>Dulunya sih dia memulai aksi bersih-bersih bergilir. So setiap minggu pasti ada yang bersihin kamar mandi, nguras bak, nyapu lantai ruang TV, dan ngepel. Sayangnya itu hanya bertahan selama sebulan. Saking ga tahannya, akhirnya dia memutuskan untuk keluar. Hikz&#8230;sedih juga sih&#8230;tapi apa mau dikata&#8230;<span id="more-152"></span></p>
<p>Namun kepergiannya ternyata tidak membuat kami bertobat (dasar orang bebal ^^) Porselen lantai dan bak kamar mandi berubah warna mencoklat, dan anehnya, tak ada satu pun dari kami yang tergerak untuk mebersihkannya..</p>
<p>Sampai akhirnya&#8230;</p>
<p>Saya putuskan untuk membersihkannya sendiri! Itu pun karena airnya sudah ikut-ikutan keruh dan dasar bak sudah dipenuhi kotoran-kotoran coklat (hiiyyyy) Jadi sadar, sebulan ini kaki saya sering gatal-gatal..mungkinkah karena air ini????</p>
<p>Piuh&#8230;ternyata kotoran yang melekat di dasar dan samping bak sudah sedemikian lengket dan sangat sulit dibersihkan. Butuh setengah jam lebih untuk membersihkannya, padahal bak mandi kami tergolong kecil. Dan setelah itu gak ada tenaga lagi untuk menyikat lantai kamar mandi&#8230;so saya biarkan saja. Yang penting keramik bak mandiii sudaah kincloooong ^^ hehehe.. akhirnya saya dan teman-teman bisa mandi dengan aman dan nyaman&#8230;</p>
<p>Yang ingin saya bagikan kini adalah ilham yang mampir di  ketika saya menyikat bak sekuat tenaga.</p>
<p>Kotoran-kotoran yang menempel di porselen bak kamar mandi itu seperti dosa dalam hidup kita. Kalau dibiarkan, tidak dibersihkan secara teratur, akan terakumulasi dan menjadi sulit untuk dibersihkan. Harus ada tenaga ekstra, waktu tambahan, dan dibayar oleh kelelahan. Kotoran-kotoran itu pasti ada, tapi kalau jumlahnya terus bertambah dan tidak segera dibereskan, hidup kita, secara kasat mata jadi tidak indah, secara tidak kasat mata menjadi terganggu. Sama seperti air bak yang tercemar kotoran dan menjelma menjadi gatal-gatal di tubuh saya. Apalagi kalau dipikir-pikir, dosa yang disimpan dan dipelihara itu juga bisa menganggu dan menyakiti orang lain, bukan hanya diri sendiri. Contoh sederhanya, teman saya yang &#8220;kabur&#8221; dari kosan kami itu&#8230;hehehe ^^</p>
<p>Jadi gak ada untungnya sama sekali untuk memelihara dosa dalam hidup Anda ^^ Mending dibersihkan segera&#8230;.</p>
<p>Terakhir, kemarin untuk membersihkan kotoran-kotoran membandel itu ternyata tidak cukup kalau hanya mengandalkan sikat. Harus pake pembersih khusus porselen baru mempan.</p>
<p>Seperti itu juga dosa-dosa kita. TIdak cukup mengatasi dosa dengan mengandalkan kemampuan kita saja. Entah itu perbuatan baik, amal ibadah, pelayanan, apalagi agama! Harus dengan &#8220;pembersih&#8221; khusus yang asali, yaitu TUHAN.</p>
<p>&#8220;Jikalau kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil. Dan Ia akan menyucikan kita dari segala dosa&#8221; (I Yoh 1:9)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/152/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/152/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/152/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=152&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2009/08/01/perenungan-bak-kamar-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2009/08/6a00e3981de7fa883300e54f901e428833-800wi.jpg?w=227" medium="image">
			<media:title type="html">6a00e3981de7fa883300e54f901e428833-800wi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>LIVING A SIGNIFICANT LIFE</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/11/17/living-a-significant-life/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/11/17/living-a-significant-life/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 02:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[lovingLIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[
Tatkala menulis artikel ini saya teringat pada adik-adik mahasiswa baru yang saya bimbing sewaktu P3KMABA (sejenis ospek) dua tahun yang lalu. Memang almamater saya tercinta, UK Petra memberlakukan sistem orientasi yang agak berbeda dengan kampus lainnya. Tidak ada yang namanya perploncoan fisik; hampir sebagian besar aktivitas MOS dilakukan di dalam kelompok-kelompok kecil (10-16 org) yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=122&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;" align="justify"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/2540553441_9040c90729_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-139" style="margin:2px 10px;" title="2540553441_9040c90729_m" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/2540553441_9040c90729_m.jpg?w=184&#038;h=240" alt="2540553441_9040c90729_m" width="184" height="240" /></a></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:36pt;line-height:125%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Tatkala menulis artikel ini saya teringat pada adik-adik mahasiswa baru yang saya bimbing sewaktu P3KMABA (sejenis ospek) dua tahun yang lalu. Memang almamater saya tercinta, UK Petra memberlakukan sistem orientasi yang agak berbeda dengan kampus lainnya. Tidak ada yang namanya perploncoan fisik; hampir sebagian besar aktivitas MOS dilakukan di dalam kelompok-kelompok kecil (10-16 org) yang didampingi 2 orang kakak pembimbing. Topik yang kami bahas pun agak berbeda; tentang gambar diri, tentang tujuan hidup, dan hal-hal penting lainnya mengenai kehidupan.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Masih jelas di ingatan saya, waktu itu saya melemparkan pertanyaan “apa arti kehidupan bagimu?” Jawaban yang muncul beragam, mulai dari “hidup itu misteri”, “hidup itu bagai air mengalir”, “hidup itu panggung sandiwara”, sampai “hidup itu untuk makan” (nah…yang memberi jawaban memang hobi makan sih…). Namun ketika saya lanjutkan diskusi dengan bertanya kembali, “menurut kalian hidup yang sukses itu seperti apaan?”, sebagian besar berpendapat bahwa hidup yang sukses adalah hidup berkecukupan bahkan berkelebihan dari segi material. Sisanya seputar prestasi dalam kuliah dan kehidupan sesudahnya (bekerja, menikah, dll).<span id="more-122"></span> </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Tak langsung puas, saya terus mengejar mereka,</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Kalo udah lulus, kerja, kaya,trus mau ngapain?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">ya nikah lah kak…hehehe” seru beberapa orang sambil cengengesan.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Trus..kalo udah nikah?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Ya punya anak..”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Kalo udah punya anak?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Ya punya cucu, kak…”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Setelah itu?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Ehm…” mereka sudah mulai bingung.” Ah, mungkin menikmati hari tua bersama keluarga…”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Saya pun tersenyum.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">“<span style="font-family:Palatino Linotype, serif;">Trus… menunggu kematian itu datang menjemput?”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Suasana hening seketika. Mereka tampak terhenyak. Dan ekspresi yang sama pun saya temui di setiap orang yang saya ajukan pertanyaan serupa. Kaget ketika fakta bahwa suatu saat kematian itu akan tiba.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Seseorang pernah mengatakan bahwa di tengah-tengah ketidakpastian hidup, ada satu hal yang pasti, yaitu bahwa suatu saat kehidupan itu akan berakhir. Dan kita tak pernah mengerti kapan itu akan terjadi. Saya bisa saja meninggal waktu saya udah jadi nenek-nenek, ataupun saat ini, hari ini, setelah saya mem-<em><span style="font-family:Georgia;">publish </span></em>tulisan ini di blog. Bisa saja </span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">kan</span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;"> pas keluar dari kost saya tiba-tiba diterjang truk waktu nyebrang jalan dan meninggal di tempat? Wew, bukan bermaksud menyumpahi diri sendiri… Maksud saya ialah kematian itu datang sesuka hati. Bisa besok, lusa, maupun hari ini. Kita bisa membuat perencanaan hidup; setelah lulus saya mau kerja di mana, menikah sama siapa, tinggal di mana—namun yang namanya kematian tentu tak dapat menunda. Gak mungkin </span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">kan</span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;"> kita bilang, “duh…duh….datang aja dua tahun lagi, saya belum nikah nih!”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Nah, misalnya nih…. Hari ini ada seorang malaikat yang datang kepadamu, memberitahukan bahwa kamu akan meninggal besok? Apa yang akan kaulakukan? Kalo saya sih, ingin menulis </span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">surat</span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;"> untuk semua orang, yang isinya menyatakan betapa saya bersyukur bertemu dgn mereka dan bagaimana dalam saya mengasihi mereka. Trus, gak lupa saya meminta maaf atas segala kesalahan saya selama dua puluh satu tahun ini. Kenapa? Karena saya ingin dikenang sebagai seorang anak, teman, adik, kakak, rekan pelayanan yang baik. Dan saya percaya kita semua ingin dikenang sebagai orang yang baik, bukan? BUkannya….”biang gosip”, “penipu”, “pemalas”, “oportunis”, dan sejuta sebutan jelek lainnya. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Saya sudah bertanya pada banyak orang, dan responnya kurang lebih sama. Bahkan yang ingin dilakukan cenderung sama. Meminta maaf, memulihkan relasi, de el el. Tak ada yang bilang, “Saya akan mencari uang lebih banyak lagi.” Bahkan salah seorang adik maba saya—yang sepengamatan memegang teguh prinsip ekonomi—malah menyatakan ingin membagi hartanya pada orang-orang yang dikasihinya dan beramal pada orang miskin. Ini, menurut saya, membuktikan bahwa sekaya apapun kita, sehebat apapun kita, di ujung kehidupan kita, yang kita cari adalah relasi. Bayangkan aja, apa ada yang mau mati dalam kesendirian, meski ditemani harta menggunung sekalipun? Nelangsa, bo….</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Nah, bagaimana jika kita diberi masa hidup lebih panjang? Raja Daud pernah menulis demikian, <em><span style="font-family:Georgia;">“Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun…” </span></em>Saya yakin, kalau kita diberi waktu sebanyak itu, tentu akan lebih banyak hal baik yang ingin kita lakukan, bukan? Bagi saya pribadi, inilah kesempatan untuk membuat hidup saya bermakna, bukan hanya bagi diri saya, melainkan juga bagi orang lain. </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Saya ingin membagikan sebuah kisah: </span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Suatu saat ada seorang pria meninggal. Pria ini sudah sangat lanjut usia dan hidup sendiri. Saat dia menghadap Tuhan, Tuhan dari takhtaNya yang mulia bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan dengan hidup yang Aku berikan kepadamu?” Pria tua ini tersenyum dan menjawab dengan santai, “TUhan, saya menjaga hidup saya sedemikian rupa. Saya tak pernah bersahabat, agar hati saya tak tersakiti. Saya menjaga harta saya, tidak membaginya dengan orang lain, agar saya merasa tenteram dalam menjalani hidup. Saya bahkan menjauhkan diri dari masyarakat, agar nurani saya tidak tercemari oleh perilaku dan moralitas mereka yang bobrok. Ini saya Tuhan, dengan hati, pikiran, dan nurani yang murni, tak bercela. Ini persembahan saya bagiMu.” Tampak seraut kebanggaan di wajahnya. Kebanggaan yang pudar seketika ketika Tuhan berkata, “Aku memberimu hidup, bukan untuk menjaga hati atas nama egoisme pribadi. Aku menaruhmu di tengah masyarakat, agar kau bisa memberi warna, dengan talenta dan sumber daya yang Kuanugerahkan padamu. Agar kau bisa berbagi hidup dengan saudara-saudara, dengan orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat-sahabatmu. Sehingga dengan begitu, karaktermu akan terbentuk, di atas hati yang sakit, pikiran yang peduli, dan nurani yang tak tahan melihat moralitas dunia yang bobrok. Itu seharusnya mendorongmu untuk melakukan sesuatu, dan itulah arti hidup yang sebenarnya.”</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Seringkali kita menganggap enteng hidup kita. Padahal TUhan, Sang Pemberi hidup itu menyediakan segalanya bagi kita (pendidikan, harta, bakat, dll—hal-hal yang tidak dikecap atau dimiliki oleh semua orang), agar kita bisa membawa perubahan dalam hidup orang lain dan komunitas kita. Bahasa kerennya, <em><span style="font-family:Georgia;">agent of change. </span></em>Mungkin Anda berpikir, “Rugi ah…Ngapain ngurusin orang lain? Wong ngurusi diri sendiri belum tentu maksimal kok.” Bagi saya pribadi, itulah arti hidup yang sebenarnya. Kalau nda mau ngurusi orang lain mending jadi petapa aja, ngendon di kilimanjoro sekalian. Saya pikir kok rada munafik ya kalau kita gak bersedia ngurusi orang lain. Wong kita sehari-harinya masih butuh orang lain. Saya aja, untuk memasak nasi pun harus diajari orang dulu baru bisa.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Tapi saya pun tak memungkiri, betapa individualisnya masyarakat kita saat ini. Fenomena-fenomena <em><span style="font-family:Georgia;">filantropis </span></em>(orang-orang yang mencurahkan waktu, uang, dan tenaganya demi kepentingan orang lain) mungkin lebih banyak didapati di luar negeri. Kalaupun ada di </span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">, jumlahnya tidak banyak. Pas ada bencana alam aja baru semuanya berbondong-bondong ngumpulin sembako, menggalang dana, dan sejuta aktivitas sosial lainnya. Bahkan ada yang melakukannya hanya agar tidak dituding pelit atau dibilang tidak punya “hati”.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Dulu pun saya berpikir, kalau saya hidup ya untuk diri sendiri dunk. Yah, maksimal untuk membantu keluarga lah… demi mempertimbangkan ikatan darah di antara kami. Namun paradigma saya tentang hidup benar-benar berputar 180 derajat tatkala saya menyadari bahwa ada Seorang yang memberikan hidupNya untuk saya. Dia rela disalib, mati (namun kemudian dibangkitkan) karena Ia mengasihi saya. Bukan hanya saya, melainkan seluruh umat manusia. Termasuk Anda yang membaca artikel ini. Alkitab berkata, <em><span style="font-family:Georgia;">“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16).</span></em> Inilah <em><span style="font-family:Georgia;">message of hope.</span></em> Dia adalah Yesus, yang dengan iman, saya percaya bahwa Dia bukan sekadar manusia biasa, melainkan Tuhan sendiri yang berinkarnasi menjadi manusia. Yang saya imani bukan hanya mati di kayu salib, melainkan juga bangkit dari alam maut, menampakkan diri kepada banyak saksi, dan naik ke sorga. Yang saya imani tidak tinggal diam melihat problematika dunia saat ini, tetapi sedang bekerja melalui tangan orang-orang yang percaya padaNya dan peduli pada keadaan dunia ini.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Karena itulah saya berubah. Karena saya tahu saya dikasihi, saya tak tahan untuk tidak berbagi hidup dengan orang lain. Itulah mengapa saya menulis blog ini (walau belum banyak yang tahu dan yang membaca). Itulah mengapa saya memilih bekerja sebagai editor dengan upah yang bahkan tidak sebesar uang jajan saya waktu kuliah (agar ada lebih banyak buku yang berkualitas dan tidak hanya menjual kemasan ataupun kontroversi, tetapi benar-benar membangun moral dan paradigma anak bangsa). Itupun mengapa saya rela naik-turun angkot berkelana ke kampus UPN, Ubaya, dan Petra, “hanya” untuk memimpin kelompok-kelompok pendalaman Alkitab yang beranggotakan paling banyak 3 orang per kelompoknya. Semua ini saya lakukan bukan karena kurang kerjaan. Waktu saya menulis ini, saya sedang dihimpit oleh <em><span style="font-family:Georgia;">deadline</span></em> (karena saya juga tergabung di redaksi <em><span style="font-family:Georgia;">Disciples</span></em>). Semua ini saya lakukan karena ada bagian dalam Alkitab yang berkata, <em><span style="font-family:Georgia;">“Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.” (II Korintus 5:15)</span></em> Saya percaya, hidup bagi Tuhan tercermin dari pelayanan kita kepada sesama.</span></span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;"><span style="font-family:Palatino Linotype, serif;"><em><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Well, I am not trying to boast on my faith. </span></em><span style="font-size:11pt;color:black;line-height:125%;font-family:Georgia;">Saya percaya setiap pribadi punya urusannya masing-masing dengan Tuhan. Tapi satu hal yang saya yakini, pada akhir hidup kita, kita akan bertemu dengan Tuhan, yang akan meminta pertanggung-jawaban kita atas hidup yang diberikanNya kepada kita. Apakah kita akan datang dengan penuh rasa penyesalan atau dengan sukacita tak terkira? Itu adalah pilihan—tergantung dengan bagaimana kita menjalani hidup ini. Hidup ini pasti akan berakhir, kawan&#8230; Karena itu buatlah hidup ini berarti. Dengan tidak hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk berbagi dengan sesama. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"> </span></p>
<p style="margin-bottom:0;text-indent:1.27cm;" align="justify"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=122&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/11/17/living-a-significant-life/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/2540553441_9040c90729_m.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">2540553441_9040c90729_m</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Mencintai</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/11/15/belajar-mencintai/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/11/15/belajar-mencintai/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Nov 2008 04:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,
Itulah KESEMPATAN.



Ketika kita bertemu dengan seseorang yang
membuat kita tertarik, Itu bukan PILIHAN,
itu KESEMPATAN.
Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah PILIHAN,
Itupun adaah KESEMPATAN.


Bila kita memutuskan untuk mencintai orang
tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya,
Itu bukan KESEMPATAN, itu adalah PILIHAN.


Ketika kita memilih bersama dengan seseorang
walau apapun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=129&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div><span lang="SV"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/heart-hug-moranga1.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-131" style="margin:8px 10px;" title="heart-hug-moranga1" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/heart-hug-moranga1.gif?w=300&#038;h=237" alt="heart-hug-moranga1" width="300" height="237" /></a>Ketika kita bertemu orang yang tepat untuk dicintai,<br />
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat,<br />
Itulah KESEMPATAN.<br />
</span></div>
<div><span lang="SV"><br />
</span></div>
<div><span lang="SV">Ketika kita bertemu dengan seseorang yang<br />
membuat kita tertarik, Itu bukan PILIHAN,<br />
itu KESEMPATAN.</span></div>
<div><span lang="SV">Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah PILIHAN,<br />
Itupun adaah KESEMPATAN.</span></div>
<div><span lang="SV"><br />
</span></div>
<div><span lang="SV">Bila kita memutuskan untuk mencintai orang<br />
tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya,<br />
Itu bukan KESEMPATAN, itu adalah PILIHAN.<span id="more-129"></span></span></div>
<div><span lang="SV"><br />
</span></div>
<div><span lang="SV">Ketika kita memilih bersama dengan seseorang<br />
walau apapun yang terjadi, Itu adalah PILIHAN.<br />
</span></div>
<div><span lang="SV">Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih<br />
banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai,<br />
lebih kaya daripada pasanganmu<br />
Dan tetap memilih untuk mencintainya,<br />
Itulah PILIHAN.</span></div>
<div><span lang="SV">Perasaan cinta, simpatik, tertarik,<br />
Datang bagai KESEMPATAN pada kita.<br />
Tetapi <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">cinta sejati</span> yang abadi adalah PILIHAN.<br />
PILIHAN yang kita lakukan.</span></div>
<div><span lang="SV">Berbicara tentang pasangan jiwa,<br />
Ada suatu kutipan dari film yang Mungkin sangat<br />
tepat : &#8220;Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap<br />
bergantung pada kita, bagaimana membuat<br />
semuanya berhasil&#8221;</span></div>
<div><span lang="SV">Pasangan jiwa bisa benar-benar ada.<br />
Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang<br />
Yang diciptakan <span class="yshortcuts" style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;">hanya untukmu</span>.</span></div>
<div><span lang="SV"><br />
</span></div>
<div><span lang="SV">Tetapi tetap berpulang padamu<br />
Untuk melakukan PILIHAN apakah engkau ingin<br />
Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau<br />
tidak&#8230;</span></div>
<div><span lang="SV">Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa<br />
kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan<br />
jiwa kita, Adalah PILIHAN yang harus kita lakukan.</span></div>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Kita ada di dunia bukan untuk mencari<br />
seseorang yang sempurna untuk dicintai<br />
TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak<br />
sempurna dengan cara yang sempurna</span></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">[puisi ini diambil dari kiriman salah satu teman milisku..semoga menjadi inspirasi bagi kita semua...God Bless...]</span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/129/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/129/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/129/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=129&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/11/15/belajar-mencintai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/heart-hug-moranga1.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">heart-hug-moranga1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERCERMIN PADA KEBIJAKAN RADIO MALAYSIA</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/11/05/bercermin-pada-kebijakan-radio-malaysia/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/11/05/bercermin-pada-kebijakan-radio-malaysia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Nov 2008 05:00:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Menarik juga mengikuti perkembangan media dan musik di negara tetangga kita, Malaysia. Ceritanya nih…lagu-lagu Indonesia lebih populer dan diminati oleh masyarakat Malaysia ketimbang lagu-lagu Melayu sendiri. Hanya karena faktor mengejar keuntungan semata maka radio lebih banyak memutar lagu-lagu Indonesia. 
Beranjak dari realita inilah, menurut berita terakhir yang saya baca, Persatuan karyawan  (Seniman) Malaysia mulai 1 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=111&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/l_internetradio-internet.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-112" style="margin:4px 6px;" title="l_internetradio-internet" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/l_internetradio-internet.jpg?w=300&#038;h=300" alt="l_internetradio-internet" width="300" height="300" /></a>Menarik juga mengikuti perkembangan media dan musik di negara tetangga kita, </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Malaysia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">. Ceritanya nih…lagu-lagu </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> lebih populer dan diminati oleh masyarakat </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Malaysia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> ketimbang lagu-lagu Melayu sendiri. Hanya karena faktor mengejar keuntungan semata maka radio lebih banyak memutar lagu-lagu </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">. </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Beranjak dari realita inilah, menurut berita terakhir yang saya baca, Persatuan karyawan  (Seniman) Malaysia mulai 1 November 2008 akan memantau seluruh radio untuk mengetahui lagu-lagu karya musisi sendiri yang disiarkan atau karya asing, terutama musik Indonesia. Seperti dikutip dari Berita Harian, Presiden Karyawan (Persatuan Karyawan Malaysia) Freddie Fernandez, mengatakan bahwa hasil pemantauan mereka itu akan diberikan kepada menteri tenaga, air, dan komunikasi Shaziman Abu Mansor selaku pemberi izin penyiaran radio<span id="more-111"></span><em></em></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">I become proud of two things. First, </span></em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">bangga juga kalau tenyata hasil karya anak bangsa kita dihargai di luar negeri. Ini mungkin layak menjadi <em>trigger </em>untuk kita semakin mencintai karya dalam negeri, juga negara kita tercinta. <em>Second, </em>bangga dengan langkah bijak yang diambil pemerintah </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Malaysia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> dalam &#8220;mengamankan&#8221; industri musik dalam negeri. Seharusnya ini pun diterapkan oleh pemerintah </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Indonesia</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">. Terlalu banyak aset budaya yang sudah direbut negara lain, mulai dari <em>Rasa Sayange </em>sampai <em>batik. </em>Ini semua terjadi karena rendahnya kepedulian dan apresiasi masyarakat kita terhadap peninggalan budaya dan kesenian. Karena itu, sebagai bangsa yang dikenal berbudi luhur, marilah kita lestarikan dan hargai karya anak negeri. Jangan sampai budaya kita yang bernilai rasa tinggi perlahan-lahan terkubur karena kita lebih tertarik dengan buah cipta &#8220;tetangga&#8221;</span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> </span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;"> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=111&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/11/05/bercermin-pada-kebijakan-radio-malaysia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/l_internetradio-internet.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">l_internetradio-internet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ASYIK&#8230;ADA YANG GAK USAH MIKIR!</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/11/03/asyikgak-usah-mikir/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/11/03/asyikgak-usah-mikir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Nov 2008 11:23:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[pola pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin sebagian besar dari kita udah menyaksikan iklan salah satu operator terbesar di negeri ini, yang mengumandangkan seuntai kalimat nan &#8220;bijak&#8221; di atas. Saya pertama kali menontonnya beberapa hari yang lalu (emang rada telat sih, maklum jarang nonton tivi) dan langsung bingung. Lho kok bingung? Jelas karena apa yang disampaikan iklan tsb tidaklah sejalan dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=103&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/63343.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-104" title="63343" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/63343.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>Mungkin sebagian besar dari kita udah menyaksikan iklan salah satu operator terbesar di negeri ini, yang mengumandangkan seuntai kalimat nan &#8220;bijak&#8221; di atas. Saya pertama kali menontonnya beberapa hari yang lalu (emang rada telat sih, maklum jarang nonton tivi) dan langsung bingung. Lho kok bingung? Jelas karena <strong>apa yang disampaikan iklan tsb tidaklah sejalan dengan realita</strong>. Wong ketika saya nonton iklan, trus tertarik untuk membeli dan akhirnya membeli produk tersebut tentu akan melibatkan yang namanya<strong> &#8220;proses berpikir&#8221;.</strong> Lagipula, teman saya pernah bersaksi demikian, &#8220;Ah..katanya gak usah mikir&#8230;sama aja prosedurnya ribet and bikin pusing!&#8221; Yap, mungkinkah penipuan publik terjadi lagi? Yah&#8230;only GOd en yang bikin iklan yang tahu&#8230; Yang ingin saya soroti kali ini adalah muatan pesan yang dibawanya.<span id="more-103"></span></p>
<p style="text-align:left;">Sadar atau gak, masyarakat kita sekarang ini <strong>lebih mementingkan hasil dari pada proses.</strong> Gak perlu susah-susah kuliah, kan bisa beli ijasah palsu. Ngapain susah-susah belajar untuk UNAS? Kan bisa bayar calo. Ngapain mikir? Di sekeliling kita kan tersedia bgt banyak jasa dan barang yang kian mempermudah hidup kita. Apalagi sekarang ini teknologi berkembang sedemikian cepat, dan rima kehidupan pun semakin tak terbendung geraknya. Tak aneh apabila orang-orang lebih memilih jalan pintas. </p>
<p style="text-align:left;">Ini sangat bertolak belakang dengan perkataan Aristoteles (atau Socrates ya?), <strong>&#8220;Saya berpikir karena itu saya ada.&#8221;</strong> Walaupun saya sendiri kurang setuju dengan ungkapan yang terlalu mengagungkan rasio dan berbau humanis ekstrem itu, saya dapat menerimanya dalam batasan tertentu. Paling tidak Bapak Filsafat ini menganjurkan untuk menggunakan otak dan berpikir. Tidak sampai di situ, dengan berpikir, kita harus menciptakan dampak di tengah masyarakat. Jangan sampai kita terlarut di dalam budaya pro-instan yang dianut oleh sebagian besar masyarakat. Kenapa? <strong>Karena kita gak akan dapat memaknai hidup dengan benar. </strong></p>
<p style="text-align:left;">Dan kalau hidup ini tidak dimaknai, untuk apa kita hidup?</p>
<p style="text-align:left;">Apa asyiknya gak usah mikir kalo kita bisa menggunakan daya nalar kita dan memberi sumbangsih berarti pada masyarakat? Ya, gak?</p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;"> </p>
<p style="text-align:left;"> </p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=103&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/11/03/asyikgak-usah-mikir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/11/63343.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">63343</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>YOU WERE BORN TO BE LOVED</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/10/25/you-were-born-to-be-loved/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/10/25/you-were-born-to-be-loved/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 25 Oct 2008 08:26:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[lovingLIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[
Ah Ye Un, seorang gadis cilik,  mampu bermain piano tanpa diajari. Sejak umur 3 tahun, ia mampu memainkan Furelise dan lagu-lagu bernada sulit hanya dengan mendengar sekali, bahkan tanpa melihat kertas partitur. Ini membuat ia dijuluki Mozart cilik. Ajaibnya, potensi sebesar itu datang dari seorang anak adopsi yang buta sejak lahir,

Saya pertama kali menyaksikan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=77&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<p class="MsoNormal"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/22.jpg?w=300"><img class="alignleft size-medium wp-image-79" style="margin:9px 12px;" title="22" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/22.jpg?w=270&#038;h=179" alt="" width="270" height="179" /></a>Ah Ye Un, seorang gadis cilik, <span> </span>mampu bermain piano tanpa diajari. Sejak umur 3 tahun, ia mampu memainkan Furelise dan lagu-lagu bernada sulit hanya dengan mendengar sekali, bahkan tanpa melihat kertas partitur. Ini membuat ia dijuluki Mozart cilik. Ajaibnya, potensi sebesar itu datang dari seorang anak adopsi yang buta sejak lahir,<span id="more-77"></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal">Saya pertama kali menyaksikan anak yang luar biasa ini tatkala menonton semacam kontes bakat di televisi. Tatkala ia mempertontonkan keahliannya bermain piano, para juri hanya bisa melongo dan tak mampu berkata apa-apa. Apalagi ketika mengetahui latar belakangnya yang yatim piatu. Terlebih Ah Ye Un akhirnya memainkan sebuah lagu sembari bernyanyi. Ini dia lirik lagu yang dinyanyikannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>You were born to be loved</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>And you are receiving that love through your life</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>You were born to be loved</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>And you are receiving that love through your life</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>The love from God hat started since the beginning of your birth</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>Become connected with us meeting each other</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>You were born to be loved</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><em>And you are receiving that love through your life</em></p>
<p class="MsoNormal">Tak ada juri dan hadirin di studio (termasuk saya dan teman-teman yang sedang menonton) yang kering matanya tatkala Ye Un selesai bernyanyi. Betapa tidak? Sering kali terlalu banyak hal yang kita keluhkan dalam hidup ini. Kenapa wajah saya seperti ini? Mengapa keluarga saya tidak seharmonis keluarga yang lain? Kenapa saya miskin? Dan segudang keluhan lainnya.</p>
<p class="MsoNormal">Ah Ye Un mengajari saya untuk bersyukur dengan hidup dan keberadaan saya. Apapun keadaan kita, kita lahir untuk dicintai dan mencinta,..Karena kita lahir dari kasih..Kasih sejati, yaitu kasih Tuhan sendiri….Bahkan meskipun kita bukanlah anak yang diinginkan orang tua kita, kita dikasihi Allah.</p>
<p class="MsoNormal">Bersyukurlah dengan hidup kita, coz hidup kita adalah bukti anugerahNya…</p>
<p class="MsoNormal">Ah Je Un yang masih kecil saja bisa memaknai hal ini. Kita pun bisa menjadi inspirasi bagi orang lain, ketika kita belajar untuk mensyukuri hidup dengan segala sukacita dan kesedihannya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=77&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/10/25/you-were-born-to-be-loved/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BOOKS: THE IGNORED TREASURE</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/07/31/books-the-ignored-treasure/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/07/31/books-the-ignored-treasure/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Jul 2008 06:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[pola pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Henry David Thoreau pernah bilang &#8221;Books are the treasured wealth of the world and the fit inheritance of generations and nations.&#8221; Begitu pentingnya peran sebuah buku, maka di dalam tradisi orang Yahudi, misalnya, anak-anaknya diwajibkan untuk bertekun membaca dan mempelajari Taurat sejak dini. Bahkan buku pun dapat berperan sebagai trigger bagi sebuah masyarakat untuk melesat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=58&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-bottom:10pt;text-align:justify;line-height:150%;"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/290904664_f684eb7563_m.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-86" style="margin:11px 12px;" title="290904664_f684eb7563_m" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/290904664_f684eb7563_m.jpg?w=240&#038;h=195" alt="" width="240" height="195" /></a><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;color:#333333;">Henry David Thoreau pernah bilang <em>&#8221;Books are the treasured wealth of the world and the fit inheritance of generations and nations.&#8221;</em> Begitu pentingnya peran sebuah buku, maka di dalam tradisi orang Yahudi, misalnya, anak-anaknya diwajibkan untuk bertekun membaca dan mempelajari Taurat sejak dini. Bahkan buku pun dapat berperan sebagai <em>trigger </em>bagi sebuah masyarakat untuk melesat maju dan meninggalkan keterpurukan. Contohnya adalah Jepang, masyarakat yang terkenal memiliki mental pembelajar. Pasca insiden bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pemerintah Jepang menyediakan literatur-literatur dengan harga yang sangat murah. Buahnya terlihat sekarang, Jepang menjadi <em>leading country </em>di Asia dalam bidang sains dan teknologi. Padahal, tanpa adanya peristiwa naas itu, Jepang sebenarnya tidak memiliki sumber daya alam yang dapat diandalkan untuk menjadi sukses. Negara dengan luas wilayah yang tak bias dibilang luas ini malahan “dianugerahi” berbagai kondisi alam yang fluktuatif. Namun mereka berhasil bangkit karena sumber daya manusianya berwawasan luas dan memiliki mental pembelajar.<span id="more-58"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;color:#333333;">Melihat pentingnya peranan buku dalam kehidupan suatu bangsa, sungguh ironis bahwa di Indonesia, yang namanya bahan bacaan tidak terlalu diminati. Bahkan di negara yang potensial ini, buku seakan menjadi harta karun yang diabaikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006 menunjukkan bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%). Data lain misalnya datang dari International Association for Evaluation of Educational (IAE). Tahun 1992, IAE melakukan riset tentang kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar (SD) kelas IV pada 30 negara di dunia. Kesimpulan dari riset tersebut menyebutkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-29. Angka-angka itu menggambarkan betapa rendahnya minat baca masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak SD. Bagaimana dengan para pendidik kita? Dari riset selama proses <em>training</em> guru di Aceh, Bandung, Medan, dan Surabaya yang dilakukan INSEP selama tahun 2005-2007 di hampir 80 sekolah terlihat bahwa kemampuan membaca guru sangat minim, yaitu 79% guru hanya membaca di bawah 1 jam per hari, 15% guru membaca 1-2 jam per hari, dan sisanya hanya sekitar 6% guru membaca antara 2-3 jam per hari. </span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:&quot;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;">Jumlah judul buku yang dihasilkan setiap tahun di Indonesia pun jauh di bawah negara Asean lainnya. Malaysia dengan penduduk 26 juta jiwa menerbitkan 10 ribu judul setiap tahun. Demikian juga dengan Vietnam yang berpenduduk 80 juta jiwa menerbitkanb 15 ribu judul buku setiap tahun. Indonesia dengan penduduk 220 juta jiwa hanya menerbitkan 10 ribu judul buku per tahun. Semua data ini,dalam pandangan saya mengisyaratkan kurangnya penghargaan masyarakat kita terhadap bahan bacaan. Padahal sebagian besar ilmu dan informasi yang terkini kita dapati dari buku. Padahal individu-individu yang kaya ilmu adalah cikal bakal masyarakat yang madani.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;color:#333333;">Bagaimana dengan Anda? Entah Anda adalah seorang mahasiswa, pelajar, guru, dosen, karyawan, buruh pabrik, pengusaha, pegawai negeri, atau ibu rumah tangga. Apapun latar belakang profesi, budaya, dan pendidikan Anda. Kalau Anda merindukan sebuah perubahan terjadi di tengah masyarakat kita, mulailah dengan mengubah pandangan dan sikap Anda terhadap buku. Tentu buku yang saya maksud di sini adalah buku yang bermutu dan membangun wawasan serta karakter kita. Dengan mendidik diri sendiri menjadi pribadi yang menghargai ilmu, Anda sedang mendatangkan dampak yang signifikan bagi kehidupan Anda, dan tentu saja, tidak menutup kemungkinan, bagi lingkungan dan bangsa ini. (<em>dari berbagai sumber)</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 10pt;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0 0 10pt;" align="center"><em><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Georgia;color:black;">Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina <span style="background:yellow none repeat scroll 0;"><span style="background-color:#ffff00;">hikmat</span></span> dan didikan.(Amsal 1:7)</span></em></p>
<p class="MsoNormal"> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/selviya.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/selviya.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=58&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/07/31/books-the-ignored-treasure/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/290904664_f684eb7563_m.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">290904664_f684eb7563_m</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>How to say &#8220;sorry&#8221; for your OWN mistakes</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/07/29/how-to-say-sorry-for-your-own-mistakes/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/07/29/how-to-say-sorry-for-your-own-mistakes/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 07:30:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[lovingLIFE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Ada dua kata yang paling penting namun sekaligus juga sulit diucapkan manusia, yaitu TERIMA KASIH dan MAAF. Namun, bagi saya pribadi, dalam kebanyakan kasus mengatakan &#8216;MAAF&#8217; itu jauh lebih sulit daripada berterimakasih. Mengapa? Mengatakan maaf pasti mengorbankan &#8220;wajah&#8221; kita. Mau ditaruh di mana ni muka? Apalagi kalau kita lebih tua, dianggap lebih dewasa, ataupun memiliki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=46&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/865.jpg"><img class="size-medium wp-image-89 alignleft" title="Little girl with butterfly wings" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/865.jpg?w=300&#038;h=209" alt="" width="300" height="209" /></a>Ada</span><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;"> dua kata yang paling penting namun sekaligus juga sulit diucapkan manusia, yaitu TERIMA KASIH dan MAAF. Namun, bagi saya pribadi, dalam kebanyakan kasus mengatakan &#8216;MAAF&#8217; itu jauh lebih sulit daripada berterimakasih. Mengapa? Mengatakan maaf pasti mengorbankan &#8220;wajah&#8221; kita. Mau ditaruh di mana ni muka? Apalagi kalau kita lebih tua, dianggap lebih dewasa, ataupun memiliki status sosial di masyarakat yang lebih tinggi daripada orang yang bersangkutan dgn kita (mis: majikan dan pembantu). <span id="more-46"></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">Bagaimana cara yang mudah untuk mengatakan MAAF dalam situasi ini? </span></p>
<p><!--more--></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">SELAMAT MENCOBA !</span></strong></p>
<ul>
<li>
<div style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">Percayalah, masalah ataupun kesalahpahaman tak dapat terselesaikan apabila Anda cuma berdiam diri saja! Anda perlu berinisiatif mengajak berdamai, dan kata MAAF adalah fomula yang tak tergantikan dalam usaha rekonsiliasi macam apapun.</span></div>
</li>
<li>
<div style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">Sadarilah bahwa meminta MAAF bukanlah ekspresi kelemahan atau kalah, melainkan wujud KEBESARAN JIWA dan KEMENANGAN ATAS EGO SENDIRI. Alih-alih dihina atau diejek, Anda mungkin akan semakin dihormati karena kerendahan hati dan kedewasaan Anda</span></div>
</li>
<li>
<div style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">Jangan bicara berputar-putar dan jangan gunakan bahasa yang tersamar. Katakan langsung pada intinya, sehingga orang yang bersangkutan tidak menjadi bingung ataupun semakin kesal pada Anda</span></div>
</li>
<li>
<div style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">Jangan membela diri. Itu menunjukkan bahwa Anda tidak sungguh-sungguh ingin berdamai. Lebih parah lagi, lawan bicara mungkin merasa Anda sedang balik menyalahkan dia.</span></div>
</li>
<li>
<div style="line-height:150%;text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:'Trebuchet MS';color:#000000;">Tunggu <em><span style="font-family:'Trebuchet MS';">feedback </span></em>dari si dia. Apakah positif atau negatif? Kalau responnya positif, nyatakan janji Anda untuk berusaha tidak mengulangi kesalahan serupa dan minta dia untuk mengingatkan Anda senantiasa. Kalaupun negatif (dia tidak bersedia memaafkan Anda), tidak perlu berkecil hati. Buatlah kebaikan-kebaikan kecil dan perhatikanlah dia. Ingat, apapun hasilnya kelak, yang penting Anda sudah berusaha&#8230;</span></div>
</li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/selviya.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/selviya.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=46&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/07/29/how-to-say-sorry-for-your-own-mistakes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/865.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Little girl with butterfly wings</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BEAUTY equals HAPPY?</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/07/26/beauty-equals-happy/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/07/26/beauty-equals-happy/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Jul 2008 08:26:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[pola pikir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=10</guid>
		<description><![CDATA[
DI SEBUAH pagi yang cerah, seperti biasa, saya membaca koran. Tak disangka, mata saya menangkap sebaris headline besar yang begitu mengejutkan dan langsung membuat saya berkutat di halaman tersebut. Bunyinya demikian: “Para Pelajar di Tiongkok Berlomba-lomba Operasi Plastik” Saya pun merunut kata demi kata, sambil sesekali geleng-geleng kepala. Disitu dikisahkan, pada musim liburan sekolah, para pelajar di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=10&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/07/istockhappy3b1.jpg"></a><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/07/102.jpg"></a></p>
<p><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/07/istockhappy3b4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-21" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/07/istockhappy3b4.jpg?w=300&#038;h=200" alt="" width="300" height="200" /></a>DI SEBUAH pagi yang cerah, seperti biasa, saya membaca koran. Tak disangka, mata saya menangkap sebaris headline besar yang begitu mengejutkan dan langsung membuat saya berkutat di halaman tersebut. Bunyinya demikian: <strong>“Para Pelajar di Tiongkok Berlomba-lomba Operasi Plastik”</strong> Saya pun merunut kata demi kata, sambil sesekali geleng-geleng kepala. Disitu dikisahkan, pada musim liburan sekolah, para pelajar di Negara tirai bambu (kebanyakan wanita) akan berbondong-bondong datang ke rumah sakit atau dokter bedah untuk “memperbaiki” bagian-bagian tubuh yang dirasa kurang sempurna. Mulai dari operasi bibir dan payudara(agar tampak lebih seksi), pembentukan lipatan mata (supaya gak terlihat sipit), sampai sedot lemak (untuk mengusir lemak-lemak yang menganggu keindahan tubuh). Tentu tak sedikit kocek yang dikeluarkan. Tapi itu bukan masalah buat mereka. Yang terpenting, tutur salah seorang narasumber, ia bisa kembali ke sekolah dengan lebih percaya diri.<span id="more-10"></span></p>
<p>Kalau demikian fenomena di Asia, di Eropa lain lagi (walaupun wanita disana juga banyak berurusan dengan operasi-operasi serupa). Di majalah Women Weekly, majalah wanita keluaran Australia, pernah termuat cerita seorang wanita dengan berat 102 kg bernama Jayne. Saking gemuknya, dia tak dapat melihat ujung jari kakinya sendiri kala berdiri atau berjalan. “Setiap saya bertemu seseorang di jalan, yang ditatapnya bukanlah wajah saya melainkan dada saya” Akhirnya dia memutuskan untuk menjalani operasi sedot lemak, yang meninggalkan carut-marut mengerikan diseputar perut, punggung, dada, dan bagian belakang lehernya. Beberapa bulan kemudian, dia bersaksi, “terima kasih untuk Tuhan dan pisau bedah itu. Saya bukan saja tampak lebih proporsional, saya juga terlihat lebih muda. Saya bahagia dengan hidup saya sekarang ini” Penulis artikel tersebut lantas bertanya, “What’s wrong with looking your age?” Jayne berkata, sambil tersenyum, <em>“No, sweetheart, that’s the wrong concept. <strong>This is a competitive world. Everybody wants to look good.”</strong></em></p>
<p>Mungkin tidak berlebihan kalau saya menganggap kedua kisah di atas menggambarkan fenomena yang terjadi dalam kehidupan wanita di dunia saat ini. Sebagai perempuan, saya pun memaklumi bahwa ada dua topik yang sensitif bagi kaum kami, yaitu berat badan dan usia. Seorang teman saya bernah berkomentar, “Pada dasarnya, tak ada orang yang suka disebut jelek, gendut, atau berMu-Tu alias bermuka tua. Makanya produk-produk pemutih, peremajaan kulit, anti-aging, diet, dan tetek bengeknya tak pernah sepi di pasaran” Saya pun mulai memikirkan, merenungkan, kenapa kaum perempuan (termasuk saya tentunya) tak pernah berhenti meributkan hal-hal itu? Bahkan mengapa ada orang yang rela menghabiskan uangnya di klinik bedah kecantikan? Emang sih, bodi makin yahud…tapi rasa sakit dan carut-marut yang diderita tubuh ini juga tak tertahankan. Apa memang untuk menjadi cantik dan bahagia dengan diri sendiri memang morotin dan menyakitkan?<br />
Apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam masyarakat kita saat ini? <strong>Pertama, kecantikan dipandang sebatas apa yang tampak dari luar, alias cantik lahiriah.</strong> Apa buktinya? Lihat saja bagaimana media mempopulerkan sosok wanita tinggi, langsing (tanpa lemak-lemak yang menyembul ditempat yang kurang pas), serta berkulit putih menawan tanpa jerawat, noda, maupun kerutan, sebagai figur yang pantas dilabeli <strong>CANTIK.</strong> Ini sejalan dengan apa yang didefinisikan wikipedia dengan kecantikan yang ideal, yaitu “<em>person who is admired, or possesses features widely attributed to beauty in a particular culture.”</em> Tampilan ikon-ikon kecantikan dari zaman ke zaman memang berbeda (contohnya, Cleopatra VII, Helen of Troy, dan Marilyn Monroe), namun mereka dikatakan cantik karena pada diri mereka ada kualitas yang dikagumi kebudayaan pada masa itu. Jadi siapa yang menetapkan standar kecantikan? Budaya. Siapa yang membentuk budaya? Masyarakat sendiri: orang-orang disekitar kita, dan tak terkecuali kita sendiri. Sadar gak? Kitalah yang menetapkan standar kecantikan yang kita sendiri sulit untuk jangkau! Ini fakta yang sulit untuk kita pungkiri. <strong>Kita menghabiskan uang dan menahan nyeri untuk dapat memenuhi standar yang kita canangkan sendiri.</strong> Bukankah ini sebenarnya usaha yang tidak perlu?</p>
<p>Mungkin Anda akan menyanggah, “tidak perlu bagaimana? Bagi saya ini sangat bermanfaat. Saya menjadi lebih bahagia ketika saya menjadi lebih cantik.” Ups, di sini terlihat bahwa ternyata, <strong>kita telah mendasarkan kebahagiaan kita pada kecantikan yang kita miliki.</strong> Kita merasa puas dan bahagia dengan diri sendiri ketika, misalnya, kita selangsing Cindy Crawford, boobs semontok Victoria Beckham, bee-sting lips ala Angeline Jolie, ataupun “snow-white skin”-nya Sandra Dewi. Sebaliknya, apabila kita gendut, kuntet, berdada rata, berbibir tipis, berwajah pas-pasan, berkulit legam, kita gak akan pernah bahagia dan sengsara seumur hidup. Benarkah demikian?</p>
<p>Nah, ada beberapa hal yang ingin saya bagikan untuk semua orang yang membaca artikel ini.</p>
<p><strong>Pertama,</strong> sadarilah bahwa yang pantas menilai dirimu baik atau buruk, jelek atau cantik, bukanlah media, orang-tua, teman-teman sepergaulanmu, bahkan dirimu sendiri.  <strong>Satu-satunya pribadi yang layak menentukan hargamu adalah Penciptamu.</strong> Tuhan yang menciptakanmu adalah sempurna, karena itu, tidak mensyukuri keadaanmu sama dengan menghina TUhan. Alkitab mengatakan setiap manusia berharga dimata Tuhan, <em>“Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu. “</em> (Yesaya 43:4). <strong>Karena Tuhan memandangmu berharga, tidak sepantasnya kamu memandang dirimu jelek. </strong></p>
<p><strong>Kedua,</strong> <strong>sandarkanlah kebahagiaan hidupmu bukan pada apa yang akan lekang seiring usia yang menua, namun pada kasih Allah yang tidak akan pernah berkesudahan.</strong> Kecantikan lahiriah memang mempesona mata, namun tak bertahan selamanya. Bangunlah kecantikan batiniah sedemikian rupa, sehingga sampai rambut memutih dan sekujur tubuh dipenuhi kerutan, kita tetap <em>adorable.</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/selviya.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/selviya.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=10&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/07/26/beauty-equals-happy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/07/istockhappy3b4.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>GLUING OUR NATION</title>
		<link>http://selviya.wordpress.com/2008/07/24/gluing-our-nation/</link>
		<comments>http://selviya.wordpress.com/2008/07/24/gluing-our-nation/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 07:48:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>selviya manuputty</dc:creator>
				<category><![CDATA[nasionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://selviya.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an muncul berbagai konflik bernuansa etnis yang menyebabkan ribuan orang mati terbunuh. M . Iqbal Djajadi mencatat sejak tahun 1995 sampai pertengahan 1998 terdapat 58 kasus kerusuhan. Tercatat 9 kasus kerusuhan pada tahun 1995, 15 kasus pada tahun 1996; 17 kasus pada tahun 1997; 17 kasus hingga Juni 1998.2 Salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=3&subd=selviya&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;color:black;"><span style="font-size:small;"><a href="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/atlas2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-94" style="margin-left:10px;margin-right:10px;" title="atlas2" src="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/atlas2.jpg?w=300&#038;h=190" alt="" width="300" height="190" /></a>Di Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an muncul berbagai konflik bernuansa etnis yang menyebabkan ribuan orang mati terbunuh. M . Iqbal Djajadi mencatat sejak tahun 1995 sampai pertengahan 1998 terdapat 58 kasus kerusuhan. Tercatat 9 kasus kerusuhan pada tahun 1995, 15 kasus pada tahun 1996; 17 kasus pada tahun 1997; 17 kasus hingga Juni 1998.<sup>2</sup> Salah satu konflik yang terbesar terjadi di Ambon antara kelompok Kristen dan Muslim yang berlangsung berlarut-larut. Walau bertumpang tindih dengan konflik yang berakar pada problem struktural dan agama tetapi warna keetnisan tetap dominan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span id="more-3"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;color:black;"><span style="font-size:small;">Ini sesuatu yang nampaknya tidak sejalan dengan usaha pemerintah untuk mengadakan rekonstruksi etnisitas di Indonesia. Hendro Suroyo mengungkapkan bahwa fenomena ini ditandai dengan obsesi yang berlebihan dari pihak penguasa setelah kemerdekaan terhadap konsep integrasi nasional. Akibatnya perbedaan dan keragaman etnik, dan secara lebih luas kebudayaan yang dimiliki oleh berbagai kelompok masyarakat sebagai sesuatu yang menghambat tercapainya tujuan-tujuan nasional, terutama persatuan dan kesatuan bangsa. Pendeknya, perbedaan dan keragaman harus dieliminasi agar persatuan dan kesatuan bangsa yang diidam-idamkan dapat terwujud. Salah satu keputusan pemerintah yang mencerminkan itu adalah ditiadakannya pertanyaan tentang suku bangsa dalam sensus penduduk di Indonesia setelah kemerdekaan.<sup>3 </sup></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Meskipun demikian, </span><span style="font-family:&quot;color:black;">sejak zaman orde baru, orang berbondong-bondong mendirikan organisasi yang “memanfaatkan” basis keagamaan, kultur atau semangat kedaerahan, untuk mencapai tujuan politik mereka. Ini mengindikasikan satu hal: keragaman etnis dan identitas kultural adalah elemen yang tak mungkin dipisahkan dari tubuh masyarakat Indonesia. Sistem pemerintahan pun tak dapat menghapusnya. Mengapa? Karena ketika kita berbicara tentang kebudayaan, itu erat kaitannya dengan cara hidup dan berpikir seseorang, secara khusus, dan kelompok budaya tempat ia hidup dan berinteraksi, yaitu kelompok etnis. Hal itu begitu melekat dan seumur hidupnya dia akan terus membawanya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;color:black;"><span style="font-size:small;"><strong>Sisi Gelap Heterogenitas dalam Masyarakat Indonesia</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;color:black;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk (multietnik) selalu menimbulkan persoalan integrasi nasional. </span><span style="font-family:&quot;color:#333333;">Fakta bahwa </span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">negeri kita terdiri dari ratusan pulau dan ratusan pula suku bangsanya mengakibatkan kecenderungan dominasi dari salah satu suku bangsa atas suku bangsa yang lain/daerah lain akan selalu ada. Salah satu contoh di kota tempat saya tinggal dan dibesarkan, Sorong, di Propinsi Papua. Perekonomian atau perdagangan umumnya dikuasai oleh masyarakat Bugis, dan biasanya suku pribumi, yaitu suku asli Papua sendiri menjadi tenaga/ buruh kasar. Ada perbedaaan status yang mencolok antara kebanyakan (tidak semua, tentu saja) warga pendatang dan warga pribumi. Tak ayal sering terjadi konflik antar etnis, yang dipicu hanya oleh perkara-perkara yang sepele.     Ketika suku-bangsa yang satu mendominasi suku bangsa yang lain, mungkin saja terjadi praktek kolusi/nepotisme suku-bangsa, sehingga dalam kehidupan sehari-hari sukubangsa yang didominasi selalu tertekan, atau tidak mendapat kesempatan seperti suku-bangsa yang berdominasi, misalnya di jabatan negara dan lapangan lainnya. Kolusi suku-bangsa/agama, di zaman Orba dipraktekkan sangat lancar oleh sang<br />
Gubernur/kepala daerah sebagai perpanjangan tangan pusat. Di Sumatera Utara waktu zaman Gubsu R.Siregar (orang Tapanuli) menjadi gubernur, bisa disaksikan hampir semua bupati/wali-kota dan pejabat penting lainnya adalah orang Tapanuli. Kita bisa melihat contoh yang lebih parah dampaknya pada gerakan sparatis </span><span style="font-family:&quot;color:black;">Macan Elam Tamil di Sri Lanka, yang ingin melepaskan diri dari pemerintahan Sri Kumaratunga yang didominasi oleh etnik Sinhala. Etnik mayoritas Sinhala menguasai seluruh akes negara dari bidang ekonomi, pendidikan, militer sampai dengan politik, sehingga etnik Tamil bangkit melawan senjata dalam organisasi LTTE-nya dengan perlawanan yang sangat luar biasa massif selama dua puluh tahun lebih. Ini membuktikan, dominasi etnik dan kebudayaan, dimanapun dan kapanpun jika dimanfaatkan secara politik untuk kepentingan golongan, bukan untuk bangsa dan negara selalu melahirkan konflik yang bersifat horisontal dan vertikal.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Kebudayaan dominan dalam struktur masyarakat yang majemuk menurut Bruner diakibatkan oleh tiga hal; 1). Faktor Demografis, dalam konteks keindonesiaan adalah kesenjangan jumlah penduduk antara pulau Jawa dan luar Jawa, padahal luas pulau Jawa hanya seperempat dari luas pulau luar Jawa; sementara 70% penduduknya terkosentrasi di pulau Jawa. Karena itu secara demografis penduduk pulau Jawa lebih dominan jika dibandingkan dengan di pulau luar Jawa. 2). Faktor Politis. Hal ini jelas terlihat bagaimana dominasi etnik tertentu –Jawa katakanlah—dalam struktur pemerintahan Indonesia. Akibatnya, banyak sekali kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat cenderung tidak adil, sebab seringkali menguntungkan kelompok golongan tertentu, sehingga menimbulkan ketidakpuasan bagi kelompok etnik tertentu. 3). Budaya Lokal, pusat pemerintahan RI yang berpusat di pulau Jawa pada akhirnya merangsang tumbuhnya kebudayaan lokal menjadi kebudayaan yang dominan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Di sisi lain usaha pemerintah untuk memeratakan jumlah penduduk di Jawa dan di luar Jawa lewat program Transmigrasi ternyata tidak menghasilkan banyak persoalan. </span><span style="font-family:&quot;color:black;">Ternyata disamping kesulitan untuk beradaptasi dengan kebudayaan lokal, para pendatang dari Jawa juga sering mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah pusat. Para transmigran yang mempunyai tingkat pendidikan lebih baik, lebih mudah untuk merespon pembangunan yang selama ini dijalankan oleh pemerintah RI. Hal ini bisa kita lihat di daerah Sambas, Ambon, Maluku, dan khususnya di Timika Irian Jaya. Dalam kasus di Timika terlihat sangat jelas, bagaimana para penduduk pribumi sangat ketinggalan dalam melakukan kompetisi menerima program pembangunan pemerintah pusat, sehingga dominasi (politik dan ekonomi) dipegang oleh para pendatang. Mekanisme dampak saring ini ternyata terjadi hampir di setiap tempat transmigrasi di luar pulau Jawa. Dalam kasus di Abepura, pasar menjadi sasaran utama untuk dihancurkan, karena mereka merasa terpinggirkan oleh para pendatang dalam mengakses kepentingan ekonomi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:17.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 6pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Jadi, pertanyaannya sekarang: bagaimana cara kita menangani heterogenitas etnis di Indonesia dengan bijak? J. Rousseau pernah berkata, &#8220;Besarnya bangsa-bangsa adalah sumber utama kemalangan manusia.&#8221; Hampir serupa, </span><span style="font-family:&quot;color:black;">Hutingthon</span><span style="font-family:&quot;color:black;"> pernah berkomentar pada akhir abad ke-20, bahwa Indonesia adalah negara yang mempunyai potensi paling besar untuk hancur, setelah Yugoslavia dan Uni Soviet akhir abad ke-20 ini. Demikian juga Cliffrod Gertz. Antropolog ini pernah mengatakan; kalau bangsa Indonesia tidak pandai-pandai memanajemen keanekaragaman etnik, budaya, dan solidaritas etnik, maka Indonesia akan pecah menjadi negara-negara kecil. Sebaliknya, kebesaran (dan tentu keragaman) bangsa ini pun bisa menjadi sumber kemajuan manusia, kalau dikelola dan didayagunakan dengan maksimal.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Solusi Strategis Harmonisasi Multi-Etnis Indonesia</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:&quot;color:#333333;">1. Tatanan Masyarakat yang Menghargai Perbedaan &amp; Warga Minoritas</span></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:#333333;">Sebuah tatatanan masyarakat yang saling menghargai perbedaaan. Ini senada dengan pandangan Emile Durkheim yang memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai organisasasi atau kelompok sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial dalam suatu daerah</span><span style="font-family:&quot;color:black;">. Identitas suku bangsa minoritet harus lebih dikedepankan untuk mendorong perkembangan dan kemajuan suku bangsa minoritet dan daerah suku bangsa minoritas. Pengakuan dan penghargaan terhadap identitet mereka, serta pengakuan dan penghargaaan terhadap daerah mereka, adalah kunci yang utama dan yang pertama harus dipegang dalam persoalan multi-etnis Indonesia. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Kerjasama antar Suku Bangsa yang kongkrit, bukan sekedar Wacana</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Untuk menghindari terulangnya konflik sosial, kelompok suku bangsa harus menyadari bahwa pluralitas suku bangsa dan budaya adalah suatu keniscayaan sehingga perlu belajar hidup bersama, berkerjasama dan meraih kejayaan secara bersama-sama.w</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Tatanan Pemerintahan yang Demokratis</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">M. Ramli menegaskan, multi-etnis merupakan ancaman bagi satu negeri/daerah jika ditangani secara diktatoris. Tetapi multi-etnis bisa memberikan kekayaan dan pendorong kemajuan jika diurus secara demokratis, dikedepankan dan dipelajari secara mendalam perbedaan dan pertentangannya sehingga tendensi dominasi-etnis yang mengkerdilkan keadilan dan demokrasi, serta tendensinya yang menjurus ke penanaman dan pembengkakan bom waktu selalu bisa dicegah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Penutup</span></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Multi-etnis bisa memberikan masa depan yang cerah bagi negeri dan bangsa Indonesia, karena masyarakat multi-etnis memiliki keistimewaan tersendiri dalam hal sumber daya manusia, serta kreasi kebudayaan/kultur tersendiri pula. Dalam rangka itu, maka diperlukan usaha-usaha yang serius untuk menjaga keutuhan integrasi nasional. Hal pertama yang harus dibangun dan diperbaiki adalah konsep integrasi yang selama ini rancu. Selama ini, integrasi dipahami sebagi proses peleburan berbagai sosio-kultur menjadi satu. Integrasi harus dipahami bukan sebagai peleburan menjadi satu Indonesia, tetapi adalah bersama-sama menjadi orang Indonesia dengan menjaga keseimbangan dan etnis-etnis yang ada. Sejalan dengan itu, diperlukan juga prasyarat-prasyarat yang dapat dilihat dalam tiga bentuk. Pertama; dibutuhkan kepemimpinan (leadership) yang kuat dan mampu mengakomodasi berbagai macam kepentingan. Kedua; tidak boleh ada hegemoni etnis tertentu yang kuat (mayoritas) terhadap etnis lain. Ketiga; dan hal ini yang paling penting, sebagaimana yang telah penulis sebutkan diatas, yaitu merubah konsepsi bahwa kultur yang ada bukan melebur menjadi satu tapi menjaga keseimbangan dari tumbuhnya kultur yang ada.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:&quot;color:black;"><span style="font-size:small;">Endnotes</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><sup><span style="font-family:&quot;color:black;">1</span></sup><span style="font-family:&quot;color:black;"> Larry Diamond dan Mars F. Plattner, Nasionalisme, Konflik Etnik, dan Demokrasi, Penerbit ITB Bandung, 1998, p. 18a &#8211; 19a.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Anas Urbaningrum, Ranjau-Ranjau Reformasi : Potret Konflik Elite Pasca Kejatuhan Soeharto, Raja Grafindo, 1998, p. 3</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:&quot;color:black;">Hendro Suroyo, Mengurai Pertikaian Etnis, ISAI, 2001</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p style="text-align:left;"><span style="font-family:Arial;color:#000000;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:left;">
<p style="text-align:left;"> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/selviya.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/selviya.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/selviya.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/selviya.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/selviya.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/selviya.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/selviya.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/selviya.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/selviya.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/selviya.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/selviya.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/selviya.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=selviya.wordpress.com&blog=4280356&post=3&subd=selviya&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://selviya.wordpress.com/2008/07/24/gluing-our-nation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f65b81e1abd0a087bca1def4b951097b?s=96&#38;d=http%3A%2F%2Fa.wordpress.com%2Fi%2Fmu.gif&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">selviya</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://selviya.files.wordpress.com/2008/10/atlas2.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">atlas2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>